Senja
datang, seperti biasa kumulai mengayuhkan tanganku yang berpegang pada seogok
kayu dengan pakuan beberapa tutup botol. Kendaraan demi kendaraan yang berhenti
di lampu merah kuhadapi sembari melirihkan secarik nyanyin indah yang kurasa
menjadi tak indah ketika aku yang menyanyikannya. Ku ulurkan tanganku kepada
para pengendara motor atau mobil berharap mereka mengisikan uluran tanganku
dengan receh yang begitu kudambakan. Tak jarang sebagian dari mereka tak
menganggapku ada, sering aku tersenggol kendaraan mereka untuk menyelap-nyalip.
Kusadar keadaanku pasti menggangku mereka. Ku juga tahu kebanyakan mereka tak
menginginkanku ada, jelas saja, memangnya aku siapa? Yaaa, aku hanyalah seorang
pengamen jalanan yang tak tahu semua urusan dunia para sang pengendara,
pekerjaanku setiap hari hanyalah membuat mereka tidak nyaman dengan kehadiranku
dengan melirihkan lagu kusam.
Bertahun-tahun
telah kuhabiskan waktuku di jalan. Tak ada tempat untukku menetap untuk pulang.
Tak ada keluarga yang menungguku pulang, tak ada harapan yang mengemangati
untukku hidup. Semua berjalan dan berlalu seperti tak berharga, yang ada hanya
sia-sia. Sering aku merasa bahwa hidupku tak ada gunanya, lebih baik ku akhiri
hidupku ini. Namun ku tak ingin mendahului takdir, tiap hariku, kuhabiskan
untuk menanti kedatangan ajalku. Namun, mengapa? Mengapa saat itu belum datang
juga kepadaku? Apakah Tuhan masih ingin melihatku sia-sia? Setiap hari
kulalui hari dengan segumpal pertanyaan-pertanyaan itu tanpa ku lewatkan untuk
senantiasa berdoa.
Setelah
lama ku selalu menanti, kurasa ada sesuatu yang membuat ku yakin bahwa hidupku
akan berakhir di dunia ini. Hari itu seperti hari yang paling indah bagiku,
seperti ada yang ingin datang setelah lama ku menanti. Seperti biasa ku
melirihkan lagu sambil mengecrekan kecrekan kayu tutup botolku. Yang kurasa
hanya bahagia, tak ada lagi hampa seperti biasanya. Ketika ku menoleh kesebelah
kananku tiba-tiba terlintas di mataku sebuah kendaraan besar mendekatiku,
seperti tak ada daya ku untuk beranjak dari tempatku. Bunyi klakson kendaraan
besar yang kudengar itu begitu kencang dengan tak ada henti, sekejap ku
tiba-tiba tak ada lagi yang kurasakan, tidak ada lagi yang ku sadari, aku pun
meninggalkan dunia yang penuh kehampaan untukku ini. Ku yakin bahwa hidupku
telah habis dijalan.
Dengan kejadian
diatas dapat menuntun kita untuk lebih baik memanfaatkan kesempatan apa pun
bagaimana pun, sehingga tidak terombang-ambing hidup sia-sia tanpa arti.
Sebagai insan yang telah dikodratkan untuk berusaha demi mencapai kebahagiaan
pada porsinya masing-masing, sudah selayaknya kita wajib berusaha sampai demi
pencapaian penuh arti yang mengandung kepuasan.
"Jangan pernah merasa menjadi seseorang yang tak
berguna, tanpa sadar kita adalah seseorang yang sangat berguna walau kita tidak
menyadarinya sendiri."
0 komentar
Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #ThinkHIGH! ^_^