Jalani Dulu

Kadang kala manusia telah memustuskan untuk tidak respect terhadap sesuatu yang terlihat tidak indah sejak awal menemukannya, padahal belum merasakannya sampai mendapatkan hasilnya. Kenapa tidak berpikir "Yasudah, jalani saja dulu..." mungkin itu akan lebih baik kan, walaupun belum tau hasilnya baik atau buruk, indah atau tak indah, setidaknya sudah menjalaninya prosesnya dengan baik. 

Dalam kehidupan nyatanya saja, kebetulan apa yang lagi saya alami. Saya baru masuk tahun pertama kuliah, dan sekarang saya sudah menyelesaikan semester 1 di tahun pertama ini tidak mengecewakan tetapi kurang memuskan. Kenapa kurang memuskan? Karena saya memiliki masalah di salah satu mata kuliah yang dari awal saya kurang respect terhdap matkul yang satu ini. Kekurang respect-an saya kepada matkul ini adalah berawal dari matkul ini diajar oleh dosen yang notabene desas-desus kabar burungnya KILLER. Ya namanya juga orang baru disuatu keadaan baru, jadi saya merasa untuk memustuskan tidak respect sama dosen itu. Secara kan menurut cerita dari orang-orang yang duluan kuliah dosen killer itu bener-bener nakutin, ada yang bilang, mau dibaikin seperti apapun kalau menurut dia salah ya salah, ngasih nilai bener-bener ngga ada toleransinya juga. Ya mau bagaimana coba ngadepin dosen kaya gitu. Mungkin saya belum berpengalaman di dunia perkuliahan, tapi diliat diawal udah ngga respect. Karena ketidak respect-an saya itu jadi saya jalanin matkul itu bisa dibilang ngga serius, selalu aja merasa kesusahan. Alhasil waktu UTS pun saya kesulitan banget ngerjainnya. Kesulitan ngerjain soal di UTS itu ternyata belom bisa buang perasaan ketidak respect-an saya. Saya jalanin sisa pertemuan di semester 1 masih sama seperti sebelum UTS, panuh kekurang respect-an. Menjelang UAS, saya bener-bener merasa kurang mampu buat menyelaiin soal essay UAS nanti. Yang terbayang diotak hanya kesulitan, kesusahan, ketidak mampuan. Saya berusaha mempelajarinya sendiri tapi tetap saya merasa ngga mampu. Sampe pada akhirnya sehari menjelang UAS matkul itu, perasaan saya berubah jadi yakin dan relax untuk bisa ngerjain soal UAS matkul itu besoknya. Di waktu ngerjain soal UAS saya sangat merasa kesusahan ngerjainnya. Bisa dibilang susah setengah mati. Hasil pekerjaannya harus perfect. Tapi hasil yang saya kerjakan jauh dari perfect. Akhirnya saya pasrah dan tinggal menunggu hasilnya.

Setelah menyelesaikan seluruh ujian akhir semester, tinggalah nunggu para dosen meng-entri nilai web academic information system kampus saya. Saya benar-benar pasrah dengan nilai yang akan muncul di matkul yang kurang saya respect itu. Akhirnya nilai itu pun muncul dan nilai itu bener-bener buruk, jauh dari kenyataan nilai baik. Diawal saya malah menyalahkan apapun yang berhubungan dengan matkul itu, menyalahkan dosen killer-nya lah, menyalahkan soalnya yang sulit bangetlah, menyalahkan model soal yang essaylah. Sejauh saya menyalah-nyalahkan, saya belum tersadar akan kesalahan diri saya sendiri.

Semakin berjalannya waktu saya semakin berpikir tentang segala kenyataan yang telah terjadi. Akhirnya saya tersadar tantang kesalan yang berhubungan dengan matkul yang gagal itu. Saya menyadari bahwa kesalahan ada pada diri saya sendiri, bukan karena dosen killer atau soal yang sangat susah.  Kalau saja saya tidak memustuskan untuk tidak respect dengan matkul itu, saya yakin saya akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Tapi apapun yang udah terjadi, saya ngga bisa buat balik ngulang dan banhin lagi. Yang ada hanya untuk menjadikan itu sebagai pelajaran agar ngga buru-buru memutuskan ketidak respect-an terhadap sesuatu sebelum menjalani prosesnya. Jalani saja dulu apa yang ada, jalani prosesnya dengan baik, terima apa yang sudah ada tanpa protes berlebihan dan perasaan keidak respect-an. Apapun yang akan kita dapatkan nanti, baik atau buruk itu semua akan menjadi yang terbaik untuk kita, pecayalah itu akan lebih baik. Karena kita harus percaya bahwa semua sudah ada jalannya. Apa yang kita dapat itu adalah yang terbaik untuk kita. Ingin menyesal karena mendapatkan hasil yang tidak mau pun tak ada gunanya, kita hanya dapat menjalani proses selanjutnya dengan lebih baik dan menjadikan keadaan sebelumnya pelajaran.
no image
Item Reviewed: Jalani Dulu 9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.
Emoticon? nyengir

Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #ThinkHIGH! ^_^

Komentar Terbaru

Just load it!