Kenikmatan sungguh amat teramat sangat didambakan oleh banyak manusia di dunia ini. Kenikmatan adalah anugerah yang paling terasa dirasakan dengan luar biasa. Kenikmatan, ya hal yang paling diupayakan untuk mendapatkannya. Sebagian mereka menggapainya dengan kerja keras luar biasa. Sebagian lainnya lagi meraihnya dengan suka rela atau instan. Bisa dibayangkan, betapa puasnya mereka yang menggapai kenikmatan dengan kerja keras. Mereka merasa lega, apa yang mereka lakukan semua itu akhirnya mencapai anugerah kenikmatan. Lain lagi dengan para peraih anugerah nikmat secara instan. Mereka merasakan amat terangat puas dan bahagia, mungkin, karena tanpa kerja keras yang berarti, mereka dapat merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Para peraih kenikmatan dengan menempuh kerja keras biasanya akan menikmati anugerah nikmatnya itu dengan jangka waktu lama. Mengapa? Karena mereka akan sangat mensyukuri apa yang mereka raih itu. Mereka juga akan lebih menghargai apa yang telah mereka nikmati dalam sebongkah kenikmatan. Mereka juga mengetahui persis bagaimana prosesnya, beratnya, dan kesulitannya untuk meraih kenikmatan itu. Mereka tidak akan main-main dalam memanfaatkan kenikmatannya itu. Mereka akan cenderung memanfaatkannya dengan baik penuh aturan dan perhitungan. Mereka juga tidak akan memamerkan apa yang mereka lakukan dengan kenikmatannya. Apa yang mereka lakukan dengan kenikmatannya itu, penuh dengan kewajaran. Mereka juga akan selalu mengingat segala kepedihan, apapun macam kepedihan, baik kepedihan sebelum meraih kenikmatan, maupun kemungkinan kepedihan setelah meraih kenikmatan. Biasa disebut "prihatin".
Berbeda dengan mereka yang meraih kenikmatan dengan instan. Mereka tidak tau bagaimana prosesnya, beratnya, dan sulitnya untuk meraih kenikmatan itu. Yang mereka tau hanya "inilah kenikmatan". Mereka cenderung memanfaatkan kenikmatan yang mereka rasakan itu tanpa aturan, perhitungan, dan tidak wajar. Mereka akan mudah menentukan apa yang harus mereka lakukan dengan kenikmatan yang mereka rasakan tanpa memikirkan sulitnya untuk meraihnya. Yang dilakukan seakan-akan hanya untuk memamerkan kenikmatan yang dia rasakan. Padahal mungkin saja kenikmatan itu adalah hanya sebuah hadiah tanpa jasa dari mereka. Ya jelas saja mereka tidak mengetahui dan tidak merasakan apa yang telah berproses sebelumnya. Maka, sebab dari itulah sebagian besar mereka akan melupakan kepedihan, tidak memikirkan kepediahan, tidak mengirakan kepediahan apa yang akan terjadi, yang mereka lakukan hanyalah untuk menikmati suatu kenikmatan itu saja.
Untuk contohnya berdasarkan yang saya saksikan di televisi Indonesia, khususnya berita infotainment. Beberapa hari ini beredar berita keprihatian/kepedihan dari keluarga selebriti Indonesia. Padahal sebelumnya, media memberitakan seluruh kenikmatan mereka. Setiap hari ada saja berita mereka sedang mengadakan pestalah, syukuranlah, dan segala macam hal yang dilakukannya dalam memanfaatkan kenikmatannya. Seakan-akan menggambarkan kehidupannya selalu bahagia tanpa cedera. Dalam seluruh berita infotainment mengenai mereka menayangkan bagaimana mereka memanfaatkan kenikmatannya. Dengan mudahnya mereka memanfaatkannya, terlihat berlebihan, kemudian disiarkan di televisi. Mungkin hal tersebut membuat mereka sangat puas dan bahagia. Namun pada kenyataan yang harus diketahui, kenikmatannya itu ia dapatkan secara instan, disebutnya mungkin hanya menerus dari kenikmatan milik seseorang. Yang menikmatinya itu hanya menikmatinya saja, sepertinya tanpa tahu betul bagaimana pahit getir dalam proses pencapaiannya. Ada seorang pemirsa menceletuk "Berita tentang mereka selalu senang-senang, pesta-pesta. Apakah orang ini ngga akan dapet musibah? Apa yang akan terjadi selanjutnya nanti?". Dan ternyata beberapa waktu kemudian muncul berita kepedihan tentang mereka.
Jujur turut prihatin, namun menjadi sebuah pelajaran berharga bahwa "Betapa berartinya kenikmatan. Maka nikmatilah kenikmatan itu dengan sewajar-wajarnya tanpa berlebihan, dan jangan lupakan kepedihan yang mungkin terjadi.", ya itulah. Boleh saja memanfaatkan kenikmatan, tetapi alangkah lebih baik bila kita juga memikirkan kemungkinan yang akan terjadi, agar tidak kaget bila kemungkinan itu akan terjadi nantinya. Karena kodratnya, hidup tidak selamanya akan indah, tentram, nikmat, dan bahagia.
0 komentar
Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #ThinkHIGH! ^_^